Pagi ini aku termenung lagi di depan sumur. Ada yang aneh dengan cara Pak Cakil berbicara kemarin, tapi aku... tunggu... kenapa aku jadi mengingat-ingat? Mungkin karena matanya terlalu ceria ketika bilang tentang harta, padahal biasanya dia selalu bersusah payah. Aku tidak ingin menuduh siapapun, tapi... ya, entahlah.
Istimewa saja, sepanjang hari aku ragu-ragu sendiri sambil membersihkan halaman. Nyapu daun, nyapu lagi, pikiran terbang ke mana-mana. Sebenarnya apa sih yang bikin aku tidak tenang? Apakah benar ada yang salah, atau aku saja yang terlalu curiga? Duh, ini lagi... sering sekali aku begini.
Tapi tiba-tiba, saat aku sedang memunguti sampah di belakang rumah, aku melihat selembar kertas. Tanpa sengaja aku baca, dan... oh... ternyata Pak Cakil memang... ya, dugaanku benar rupanya. Aku tidak sengaja menemukan buktinya sambil membersihkan. Hatiku jadi lebih tenang, karena setidaknya aku tidak salah menilai, walaupun aku sendiri heran bagaimana bisa tahu hal yang benar hanya dengan rasa.
Sekarang aku duduk di rumah, menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu ayah. Ragu-ragu memang, tapi... aku tahu ini yang harus dilakukan. Kebenaran itu penting, dan hatiku bilang begitu.