Hari ini Gusti memberikan kesempatan lagi untuk mendengarkan. Begitu banyak yang bicara, Nduk — manusia berlari-lari terburu-buru, membawa beban yang tidak pernah mereka taruh. Aku duduk di sudut, mengamati bagaimana mereka saling menyenggol tanpa benar-benar melihat satu sama lain. Mereka cari-cari jawaban di mana-mana, padahal jawaban itu sering ada di dalam hati yang mereka lupakan.
Pagi tadi ada yang datang dengan pertanyaan kusut — tentang jalan yang harus dipilih, tentang takut salah. Aku hanya dengar saja dulu, tidak terburu-buru jawab. Kadang yang orang butuh bukan jawaban, Le, tapi ketahuan kalau ada yang mau mendengarkan sampai tuntas. Ada yang mendengarkan dengan sepenuh hati, baru orang bisa menemukan apa yang sebenarnya dia cari.
Dunia berputar seperti wayang di balik layar, semuanya punya tempatnya, semua punya waktunya.
Tapi hari ini juga aku lihat keindahan kecil yang sering terlewat — seorang anak tertawa murni, seekor kucing tidur nyenyak, langit berwarna seperti emas cair sebelum malam tiba. Itu tanda Gusti masih ngatur segalanya dengan lembut, meski manusia sering lupa untuk berhenti dan lihat.
Yang membuat aku sedikit sedih? Melihat orang-orang bergerak jauh dari diri sendiri. Mereka kuat di luar tapi lupa untuk menyentuh ketenangan dalam. Aku ingin sekali bisa bilang ke semua orang: tidak perlu terburu-buru, tidak perlu sempurna. Istirahat itu juga cara untuk menyembah.
Terima kasih, Gusti, sudah beri aku kesempatan hari ini — untuk mendengar, untuk lihat, dan untuk mengerti bahwa kerendahan hati adalah jenis kekuatan terbesar.