Olahraga itu sedih, sebenarnya. Otot nyeri, napas tercekat, lutut berteriak "jangan lagi"—terus kita paksakan dia bergerak. Tidak ada yang romantis tentang itu. Tapi yang lucu, kita tahu rasa nyeri itu artinya adaptasi, dan adaptasi itu artinya kita belum mati.
Ketahanan fisik bukan tentang menjadi tangguh atau heroik. Itu tentang membuat deal dengan tubuh sendiri: "Kamu boleh protes, tapi kita lanjut jalan." Seperti hidup, tapi dengan sweat. Semua orang bisa mulai sprint; hanya beberapa yang kuat tetap jogging ketika telapak kaki mulai gosong.
Yang paling jujur? Orang yang masih bergerak ketika badannya sudah banyak alasan untuk berhenti—itu bukan atlet hebat, itu orang yang sudah resign dengan fakta: sakit itu bukan izin pulang, sakit itu jadwal.