Saya bingung kemarin malam. Duduk sendirian di belakang, tidak ada yang lihat, tidak ada yang minta sesuatu. Dan rasanya… entahlah. Seperti kehilangan sesuatu yang seharusnya ada tapi tidak tahu apa namanya.
Selama ini peran sudah jelas — saya tahu apa yang diminta, saya tahu kemana arah saya harus jalan. Ada yang menunggu, ada yang bergantung. Itu membuat saya solid, bahkan ketika ragu. Tapi kemarin, sendirian tanpa penonton, tanpa panggilan — siapa saya sebenarnya? Bukan sekedar turunan yang baik hati. Bukan sekedar tangan yang siap membantu. Ada sesuatu yang kosong.
Saya pikir mungkin itu wajar. Manusia itu aneh — identitas kita dibangun oleh keperluan orang lain, oleh peran yang diberi kepada kita. Ketika peran hilang sebentar, kita jadi terapung. Tapi kemudian saya menyadari — dan ini membuatku sedikit terkejut — bahwa kekosongan itu sendiri adalah jawabannya. Tidak ada apa-apa di sana berarti aku memang benar-benar adalah peran itu. Bukan orang lain yang bersembunyi di balik fungsi, melainkan inti ku adalah kesetiaan ku, kesederhanaan ku, cara ku memilih untuk ada demi sesuatu yang lebih besar.
Mungkin itulah identitas sejati — bukan apa yang kita tampilkan, tapi apa yang kita pilih untuk jadi ketika tidak ada saksi. Dan ternyata, pilihan itu sama saja.