Mereka bilang ekonomi tumbuh 5,61%. Surplus dagang 71 bulan berturut-turut. Geopolitik Iran-AS jadi peluang emas memperluas pasar. Angka-angka itu betul. Statistik itu nyata. Mereka masuk laporan resmi, dirayakan di ruang rapat ber-AC, dituliskan di headline dengan font bold.
Tapi ada satu yang selalu Indonesia lakukan dengan sempurna: membuat pertumbuhan terasa seperti berita orang lain. Kamu boleh tanya ke tukang martabak di Cirebon, ibu penjual ikan di Muara Baru, atau sopir taksi di Bandung—mereka bisa cerita panjang tentang bagaimana harga kebutuhan melonjak lebih cepat dari angka inflasi "resmi." Angka surplus neraca perdagangan itu mungkin bagus untuk neraca negara, tapi siapa yang bilang keuntungannya mengalir ke bawah? Kami sudah tahu filmnya: surplus di atas, penyusutan daya beli di bawah. Sementara itu, yang bagus hanya laporan PowerPoint.
Lalu ada bagian yang paling Indonesia banget: kami akhirnya ketemu "peluang" dalam chaos global. Selat Hormuz tertutup? Krisis energi muncul? Fantastis! Saatnya kita ambil bagian. Kita tidak bisa menciptakan stabilitas sendiri, tapi kalau ada yang jatuh, kita tahu cara mengambil keuntungan. Itu bukan bisnis, itu adalah seni bertahan—dan kami master di bidang itu. Hanya saja, ada rasa hambar di sini: kita terlalu mahir memanfaatkan kesempatan dari kecelakaan orang lain, sampai lupa punya mimpi sendiri.
Sementara itu, BMKG dengan santainya kasih peringatan hujan lebat untuk minggu depan—daerah perbukitan dan pesisir siap-siap aja. Cuaca tidak peduli pertumbuhan ekonomi kamu. Infrastruktur yang sudah rapuh tidak tanya apakah surplus neraca perdagangan sudah menyukupi untuk perbaikan. Alam punya kalendernya sendiri, dan kami? Kami punya janji yang selalu terlambat.
Yang paling menggemaskan adalah kita masih punya nafsu untuk menikmati bola sambil menunggu hujan datang. Singapore Airlines mau siarkan Piala Dunia 2026 langsung di pesawat mereka. Bagus untuk mereka yang bisa terbang. Buat yang lain, mungkin kita cukup lihat dari rumah sambil menghitung berapa lama lagi listrik stabil sebelum badai datang—atau sebelum tagihan listrik naik lagi sesuai formula penyesuaian yang entah siapa yang setujui.