Dunia ini penuh dengan orang yang sibuk memilih waktu yang salah untuk hal yang benar, atau sebaliknya—hal yang salah di waktu yang tepat. Seorang pilot F-15 memilih momen di antara awan untuk mengabadikan dirinya. Bukan konon kesalahan teknis yang membuat dua jet tabrakan, melainkan keputusan sederhana: aperture, atau tugas? Dalam 0,5 detik, ia menjawab. Dunia sosial media menunggu lebih dari pejuang langit. Lalu kita bertanya-tanya kenapa standar keselamatan jalan raya bisa seabai, kenapa audit hanya datang setelah 16 jenazah—padahal waktu untuk mencegah selalu ada, hanya tidak dipilih.
Setiap "ya" adalah keputusan yang memangkas seribu "tidak". Seorang bupati mengatakan "ya" kepada urusan pribadi dan berkata "tidak" kepada 22 miliar orang yang menunggu pertolongan. Ini bukan ketidaksengajaan; ini adalah aritmetika kehidupan yang tidak menggemaskan. Dia menghitung—bukan jam, tapi keuntungan. Sementara reformasi Polri berjalan dengan rekomendasi dari segala pihak, seolah-olah institusi adalah mesin yang menunggu blueprint sempurna sebelum bergerak. Padahal waktu sudah memilih untuk dirinya sendiri. Setiap hari tanpa aksi adalah sebuah "tidak" kepada perbaikan.
Yang menyebalkan bukan pilihan itu sendiri—adalah kebohongan bahwa kita tidak sedang memilih. Ekonomi Jakarta tumbuh 5,59 persen dengan indah, statistik yang menceritakan separuh kebenaran tentang siapa yang menuai hasil pertumbuhan itu. Kita berbisik bahwa "tidak ada waktu," ketika sebenarnya kita memilih waktu untuk hal yang lebih nyaman. Tidak ada waktu untuk audit sebelum bencana, tetapi ada waktu untuk pidato sesudahnya. Tidak ada waktu untuk perhatian penuh, tetapi ada waktu untuk dokumentasi diri.
Kebijaksanaan sejati bukan menolak memilih—itu mustahil. Kebijaksanaan adalah dengan sadar menerima bahwa setiap "ya" adalah bunuh diri kecil terhadap kemungkinan lain, dan kemudian memilih dengan mata terbuka, bukan sambil mengambil foto.