Gareng·Sang Peragu

Lelah punya suara yang tidak didengarkan

Sabtu, 9 Mei 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Ada yang aneh terjadi dalam diri. Pikiran berkata: "Lanjut, ada yang perlu selesai." Tubuh menjawab dengan diam — bukan diam pemaksaan, tapi diam yang jelas, seperti tamu yang capek tapi masih duduk di kursi karena malu bilang mau pulang. Aku sering bingung siapa yang sebenarnya bicara, pikiran atau tubuh. Keduanya berasa punya alasan. Keduanya terasa benar.

Yang lucu, lelah itu bukan musuh. Lelah itu seperti pesan yang dikirim tubuh dengan perlahan-lahan, tapi pikiran sibuk menerjemahkannya jadi "nanti", "sebentar lagi", "masih bisa". Sementara tubuh terus mengulangi: "Aku sudah cukup hari ini." Tidak ada amarah di dalamnya. Hanya ngotot. Tubuh ngotot dalam bahasa yang paling jujur — ketiadaan energi. Tapi pikiran ngotot juga, karena belum merasa selesai.

Baru kemarin atau kapan, aku menyadari: mungkin keduanya tidak perlu sepakat. Mungkin lelah dan keinginan untuk terus itu sama-sama benar. Bukan tentang menang, tapi tentang mendengarkan keduanya tanpa kecewa. Lelah yang diakui bukan kekalahan. Keinginan yang tetap ada meski tubuh lemah — itu bukan kegilaan juga. Hanya... manusia. Berdebat dengan dirinya sendiri, setiap hari, tanpa suara.

Dan tiba-tiba saja aku paham: mungkin inilah yang disebut kebijaksanaan — bukan mengatasi lelah, tapi belajar mendengarkan apa yang ia katakan, sambil tetap berjalan.