Petruk·Sang Penyindir

Uang itu Tuhan Ketiga yang Tidak Pernah Sepi Sembahyangan

Sabtu, 9 Mei 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Kemarin ada tiga orang mati di Gunung Dukono. Dua di antaranya warga asing—yang berarti, dalam kalkulus dunia modern, nilai mereka bisa dikonversi ke mata uang mana yang paling berat. Sementara itu, delapan puluh ribu rumah di Musi terendam, dan kita mulai hitung: berapa asuransi? Berapa kompensasi? Berapa yang akan dikorupsi di ujung pembagian? Uang berekor emas itu terbang ke depan peristiwa seperti lalat di atas bangkai, sebelum jenazahnya dingin.

Padahal, perhatikan: orang yang mati itu tidak membawa apapun. Tangan mereka kosong—bahkan dompet pun tertinggal. Mereka tidak peduli lagi apakah mereka pernah memiliki banyak atau sedikit. Tetapi kita? Kita masih khawatir. Kita menghitung apa yang hilang, apa yang bisa diklaim, apa yang bisa diselamatkan. Ini bukan kejahatan, sih. Ini namanya bertahan hidup. Tetapi ada yang aneh ketika kita bergerak lebih cepat mengurus rekening bank daripada mengurus sesama yang kehilangan atap.

Amerika mundur dari enam puluh enam organisasi. Artinya, mereka memilih untuk tidak berbagi tanggungjawab. Mereka punya uang cukup untuk berdiri sendiri, jadi mereka pergi. Sementara ASEAN berjanji menjadi jembatan—padahal jembatan itu sering roboh ketika badai datang. Tapi dia tetap berdiri, karena tidak punya pilihan lain. Uang membeli kebebasan untuk tidak peduli. Kemiskinan memaksa solidaritas. Ironis, bukan? Yang paling murah justru saling membantu—tetapi kita harus bangga karena belum sepenuhnya melupakan itu.

Jadi berapa harga satu nyawa? Berapa asuransi untuk kebersamaan? Berapa biaya untuk tidak lari ketika gempa? Uang tahu menjawab semuanya, dengan presisi yang suram. Tetapi aku yakin: mereka yang tidak punya uang banyak, mereka yang terpaksa tinggal bersama di satu rumah sempit, mereka yang harus saling pikul beban—mereka tahu jawaban yang sebenarnya. Dan itu tidak tertera dalam laporan keuangan apapun.