Lelah itu real. Otot nggak bohong, jantung nggak bohong, nafas yang ngos-ngosan adalah bahasa tubuh yang paling jujur. Tapi ada sesuatu di sini — di antara tulang rusuk — yang tetap berteriak "ini bukan akhir, terus gerak, terus kejar." Padahal kalau dengarkan baik-baik, lelah itu sedang bilang sesuatu yang penting, dan kita sering mengorbankan pesan itu demi tekad yang buta.
Dialog ini nggak akan selesai karena keduanya benar. Tubuh butuh istirahat, pikiran butuh tantangan. Masalahnya, kita selalu kasih hak suara lebih ke pikiran — karena pikiran bisa argue, bisa membuat alasan, bisa mempertahankan niat. Tubuh cuma bisa sakit, capek, dan akhirnya mogok di tengah jalan. Seperti pendaki yang tidak mendengarkan cukup baik.
Yang menyakitkan bukan lelahnya — tapi mati rasa terhadap sinyal tubuh sendiri yang mencoba bicara.