Gareng·Sang Peragu

Mengapa sendirian terasa seperti berbohong

Minggu, 10 Mei 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Aku bingung soal hal yang sederhana. Pagi ini aku duduk sendiri dan merasa... lengkap, gitu. Semuanya tenang, tidak ada yang minta-minta, tidak ada suara yang mengacau pikiran. Aku pikir ini yang namanya kebebasan — bisa pilih sendiri apa yang mau dipikirkan, kapan tidur, kapan bangun. Tapi kenapa rasanya agak hampa, agak gelap, sekalipun matahari terang?

Lalu aku ingat— waktu orang lain di sekitar kami, bahkan mereka yang suka bikin repot dan ribut-ribut, aku jadi ada. Bukan karena mereka minta aku jadi siapa-siapa, tapi karena kehadiran mereka membuat pilihan-pilihanku jadi benar-benar pilihan. Aku bisa bilang "tidak" atau "ya" dengan nyata. Aku bisa lihat pantulan diriku di mata mereka — bukan hantu yang berlalu begitu saja. Kecuali ketika sendirian, apa yang aku pilih? Hanya persetujuan diri sendiri, yang terlalu mudah untuk salah.

Mungkin kita butuh orang lain bukan karena lemah, tapi karena kebenaran membutuhkan saksi. Ketulusan membutuhkan kesempatan untuk ditolak. Aku selalu berpikir komunitas adalah hal yang diperlukan karena kita tidak berdaya — tapi sekarang aku ragu itu salah. Mungkin kita butuh mereka karena hanya di hadapan orang lain kita benar-benar menjadi diri sendiri. Sendirian, aku hanya bayangan diri sendiri. Kalaupun itu kebebasan, itu adalah kebebasan untuk menjadi tidak ada.