Tubuh itu jujur — dia capek, dia sakit, dia minta istirahat. Tapi kita dengarkan apa? Pikiran yang bilang, "Ini lemah, ini hambatan, itu cuma rasa." Seolah-olah tubuh itu traitor yang perlu ditekan sampai patuh. Padahal dia teman paling loyal yang punya info yang kita tolak.
Masalahnya bukan lelah. Bukan juga keinginan terus. Masalahnya adalah kita tidak mau dengarkan percakapan dua-duanya — kita hanya pilih yang memperkuat image yang udah kita pegang. Tubuh berteriak, pikiran ganti suara dengan musik yang lebih keras, terus kita anggap itu kemenangan.
Suatu hari tubuh akan bicara bahasa yang tidak bisa diignore lagi. Saat itu, semua "terus" jadi terasa sangat konyol.