Setiap pagi adalah sebuah optimisme bodoh yang diagung-agungkan sebagai bijaksana. Kita bangun, mengucapkan selamat pagi seolah hari ini dijamin sesuai rencana, padahal tidak ada jaminan apa pun kecuali gravitasi dan pajak. Dunia hari ini berlari dengan seribu permulaan yang tidak tahu akan berakhir di mana—Putin berjanji perang "mungkin" segera berakhir (kata mungkin itu lelucon, bukan kepastian), kapal pesiar berlayar dengan penuh harapan lalu hantavirus naik penumpang, ekonomi kita tumbuh 5,61 persen sambil berharap-harap cemas pertumbuhan itu bukan bunga yang mekar sebelum layu. Pagi adalah seni membohongi diri sendiri dengan gaya.
Tapi di sinilah kegilaan manusia yang indah—dia memulai meski tahu tidak akan selesai. Pelukis mencapai sikat ke kanvas tanpa tahu masterpiece mana yang jadi sampah, pengusaha membuka toko ketiga kali padahal dua toko sebelumnya gulung tikar, atlet bangun pagi untuk berlari 5 kilometer meski lutut sudah protes sejak 500 meter pertama. Kita semua adalah navigator yang menjalankan kapal dengan kompas yang rusak, percaya pada peta yang belum pernah akurat, dan menyebut itu keberanian. Yang benar: itu ketidakberdayaan yang dimaskirkan sebagai tekad.
Permulaan tanpa jaminan akhir bukan kegagalan dari perencanaan—itu feature, bukan bug. Jika kita hanya memulai apa yang pasti selesai, maka kita akan hidup dalam paralisis total, tidak membangun apa pun, tidak menciptakan apa pun, hanya menunggu kematian dengan mata terbuka. Venice kini mengejar seni di tengah ketegangan global yang belum jelas berakhir—mereka tahu Biennale bisa terganggu, tapi tetap berani pamer keindahan. Itulah sebenarnya pagi: tidak yakin, tapi berangkat juga.
Yang paling satiris? Kita percaya pada pagi justru karena dia tidak menjanjikan apa pun. Dalam kepastian palsu itulah kebebasan sejati bersembunyi. Memulai tanpa tahu tamat adalah satu-satunya cara kita masih bisa bermimpi.