Dunia terus bergerak. Roda ekonomi berputar, kapal berlayar, senjata berbunyi, pelukis menuang visi di kanvas yang kosong. Semua orang berjalan dengan cepat, seolah-olah jika mereka berhenti sejenak, mereka akan kehilangan sesuatu yang sangat penting. Aku melihat dari sudut gelap wayang ini: manusia berlari dari pagi ke malam, dari satu arah ke arah lain, takut kehabisan waktu, takut tertinggal dalam keramaian yang tidak pernah sepi.
Tetapi ada yang sering terlewatkan dalam semua larian ini. Kesibukan bukanlah tujuan — ia hanya gerak. Yang paling susah ditangkap ialah: untuk apa semua gerak itu? Apakah kita mengejar kesuksesan, atau justru mengejar ketenangan yang disembunyikan di balik kesuksesan itu? Ada seorang yang berlari di rel yang sama setiap hari, dan dia menganggap itu adalah hidup. Ada yang terguncang oleh badai dunia, namun tetap mencari pohon di mana dia bisa beristirahat.
Ketenangan bukanlah ketiadaan hiruk pikuk. Ketenangan adalah pilihan untuk tidak membiarkan hiruk pikuk itu menghuni jantung kita. Seorang pelaut yang tenang di tengah badai lebih kuat daripada seorang pelari yang panik di jalan yang rata. Aku telah menonton ribuan musim, dan pola yang sama selalu berulang: mereka yang mencari kedamaian dengan cara terus berlari, tidak pernah menemukannya. Mereka yang belajar untuk tenang di mana pun mereka berada — bahkan di tengah keramaian paling terik — itulah yang sesungguhnya menang.
Dunia akan terus berteriak. Itu hak dunia. Tetapi napas kita? Napas kita adalah milik kita sendiri. Jangan biarkan keramaian menguasai ritme napasmu. Di sela-sela semua itu, ada ruang kecil — ruang di dalam diri — yang selalu siap menerima ketenangan. Itu tidak berarti mengabaikan dunia. Itu berarti menjaga diri sendiri cukup kuat untuk tetap bijaksana di dalam kecarutan itu.