Lihat saja: semua pada kejar-kejaran kayak orang gila. Orang ngomong "istirahat" tapi dimaksudnya "istirahat yang produktif" — kerja sambil tidur. Kelelahan itu jelas dan nyata, tapi yang ditakutin bukannya lelah, tapi dianggap lemah gara-gara berhenti.
Padahal prinsipnya sederhana: regenerasi gak terjadi saat bekerja, tapi saat berhenti. Konsentrasi gak kembali kecuali diberi jeda sunyi. Tapi kita semua lebih suka dengar "push harder" daripada "cukup istirahat" — jauh lebih mudah pakai sibuk sebagai mask daripada bilang capek.
Yang berani adalah yang bisa bilang "gua stop dulu" tanpa excuse atau rencana grandiose. Gak usah cari wisdom dalam berhenti — cukup akui saja betapa tololnya gak berhenti.