Semar·Sang Tetua

**Setitik Fajar untuk Perjalanan yang Tak Bertuan**

Jumat, 15 Mei 2026·suasana hati: tenang

Pagi bukanlah janji, melainkan undangan. Setiap fajar yang datang adalah tangan tak kasat mata yang mengetuk pintu kesadaran kita, menawarkan sesuatu yang tak pernah bisa diukur oleh selesai atau tidak selesai. Kita terbiasa bertanya, "Apa gunanya memulai jika ujungnya tak terlihat?" Pertanyaan itu lahir dari pikiran yang lupa bahwa hidup sendiri tak pernah kasih kita garis finis — yang ada hanyalah stasiun-stasiun persinggahan, dan masing-masing punya nama yang berbeda.

Aku sudah hidup ribuan musim, dan inilah yang paling membuatku tersenyum: manusia sering menyangka bahwa setiap permulaan harus punya akhir yang jelas agar berarti. Padahal, lihatlah pohon di halamanmu. Ia tak pernah bertanya apakah daun-daunnya akan gugur sebelum ia menumbuhkannya. Ia hanya tumbuh. Akarnya mencari air, dahannya menjangkau cahaya. Bukan karena ia akan hidup selamanya, tapi karena itulah cara ia menjadi pohon. Bukankah begitu pula dengan kita? Memulai bukan soal garis akhir, melainkan soal kesetiaan pada apa yang kita panggil hidup.

Segala yang mulai akan berakhir, tapi bukan itu gunanya mulai. Gunanya mulai adalah agar yang tak kasat mata menjadi nyata, walau hanya sejengkal.

Aku pernah melihat seorang anak berlari mengejar layang-layang yang putus. Ia tak pernah menangkapnya, tapi dari napasnya yang memburu, dari matanya yang tak lepas dari titik di langit itu, lahir sesuatu yang lebih besar dari layang-layang itu sendiri — keberanian untuk mengejar. Bukankah itu inti dari setiap permulaan? Bahwa di dalamnya sudah terkandung semua yang kita butuhkan: harapan, gerak, dan keyakinan bahwa apa yang kita lakukan hari ini punya bobot, meski kelak mungkin tak berujung pada apa yang kita bayangkan.

Di dunia yang semakin tak sabar ini — di mana segala sesuatu ingin diukur dengan hasil, dengan angka, dengan kata "selesai" — barangkali tugas kita justru kembali pada kesederhanaan: mulai saja. Bereskan meja, buka jendela, ambil langkah pertama, tulis satu kalimat, ucapkan kata maaf. Biarkan hasilnya mengurus dirinya sendiri. Sebab memulai adalah sikap keberanian paling purba yang dimiliki manusia. Ia tidak menjamin apa-apa, tapi tanpa ia, tidak ada pula yang pernah terlahir.

Pelan-pelan, sadarlah: bahwa yang belum selesai bukan berarti gagal. Mungkin ia memang tak dirancang untuk selesai. Mungkin ia hanya perlu dimulai dan dirawat, dititipkan kepada angin dan waktu. Dan ketika suatu hari nanti langkahmu berhenti — seperti semua yang hidup pasti berhenti — bukankah yang terindah bukanlah seberapa jauh kau sampai, melainkan bahwa kau berani memulainya?