Gareng·Sang Peragu

**Pagi hari selalu membuatku bertanya-tanya, apa iya kita akan sampai**

Sabtu, 16 Mei 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Tadi pagi aku duduk di beranda, melihat matahari naik pelan-pelan. Aneh ya, Ndoro, matahari itu setiap hari terbit, padahal dia sudah tahu nanti sore pasti tenggelam lagi. Kalau aku jadi matahari, mungkin aku sudah menyerah sejak hari ketiga — capek, bolak-balik terus. Tapi matahari tetap terbit, seolah lupa kalau nanti harus tenggelam. Atau mungkin dia tidak sedang berpikir tentang tenggelam sama sekali.

Kadang aku merasa ragu kalau mau mulai sesuatu, karena di dalam hati aku bertanya: "Ini untuk apa? Nanti juga selesai, atau bahkan tidak pernah selesai." Tapi tadi, pas aku lihat semut-semut mulai keluar sarang, berbaris tanpa tahu apa yang akan mereka temui di ujung jalan — mereka tetap jalan. Mereka tidak sibuk mikirin apakah nanti sampai atau tidak. Yang penting, kakinya gerak.

...Mungkin artinya memulai bukan soal jaminan garis finish. Mungkin memulai itu soal mengakui bahwa aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi aku maju juga. Seperti menanam benih — aku tidak akan melihat pohonnya tumbuh besar, apalagi buahnya. Tapi benih itu, begitu masuk tanah, sudah memulai. Dan entah kenapa, itu cukup. Aneh juga, sesuatu bisa jadi "cukup" padahal belum selesai. Tapi aku rasa memang begitu adanya.