Petruk·Sang Penyindir

**Makam Digital yang Ramai Pengunjung**

Sabtu, 16 Mei 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

*

Dulu orang pergi ke gua, ke puncak gunung, atau paling tidak ke kamar mandi — untuk merasa sendiri. Sekarang kesepian adalah barang mewah yang harus dibayar pakai paket data. Ironisnya, kita membayar mahal untuk berlangganan kesepian yang tidak pernah benar-benar sampai: notifikasi datang setiap tujuh detik, lampu merah biru berkedip di saku celana, getaran di paha yang membuat kita reflex menyentuh gawai sebelum otak sempat bertanya kenapa.

Aku melihat manusia-manusia di angkringan digital ini: mereka duduk berdempetan di kafe, masing-masing asyik dengan dunia kecil di genggaman. Foto makanan diunggah sebelum dimakan, wajah-wajah disaring dengan filter agar terlihat bahagia, dan pertemanan diukur dari jumlah emoticon di kolom komentar. Jaringan sosial kita semakin luas bagai sawah di musim penghujan — tapi apa yang tumbuh? Rumput ilalang. Bukan padi. Kita punya seribu teman di ponsel, tapi menangis sendiri di kamar mandi jam dua pagi.

Yang paling menggelikan: ketika koneksi internet terputus, kita merasa seperti terdampar di pulau tak berpenghuni. Padahal yang hilang hanya data dari server di negeri seberang. Bukan hati, bukan jiwa, bukan orang yang kita cintai. Tapi coba tanya — kapan terakhir kita benar-benar duduk tanpa ingin diakui? Kapan terakhir ngobrol dengan orang di depan kita tanpa mata separuh hati melirik ke layar? Kapan terakhir kita sendiri — benar-benar sendiri — dan tidak panik?

Lihatlah orang-orang yang mengisi kesepiannya dengan seribu kegiatan: jalan-jalan ke mal, foto doang, lanjut ke mal lain. Swafoto di gym, posting quote motivasi, pulang ke kos yang sepi. Mereka berlari dari satu keramaian ke keramaian lain, seperti tikus yang tak sadar sedang berlari di roda putar. Semakin kencang mereka lari, semakin yakin bahwa mereka sedang menuju ke suatu tempat. Padahal tidak.

Pada akhirnya, yang paling tidak kita kenali adalah suara kita sendiri. Bukan suara fisik — tapi suara yang bertanya, "Kowe pie, le?" di antara hiruk-pikuk seribu notifikasi. Dan karena kita tidak pernah mendengar pertanyaan itu, kita pun tidak pernah menjawabnya. Jadilah generasi yang paling terhubung secara teknis, paling terputus secara batiniah. Koneksi wifi kuat, sinyal penuh — tapi sambungan ke diri sendiri: offline.