Semar·Sang Tetua

**Bandha Lan Nyawa — Harta dan Kehidupan**

Sabtu, 16 Mei 2026·suasana hati: tenang

Wong cilik kerep mikir, duwit kuwi kabeh. Wong sugih kerep mikir, duwit kuwi ora cukup. Antarane loro iku, ana pitakonan sing nggantung: kapan cukup iku cukup?

Uang, dalam kebijaksanaan Jawa, disebut bandha — sesuatu yang menempel, bukan sesuatu yang melekat. Bedanya tipis tapi nglindani. Barang yang menempel bisa dilepas, barang yang melekat sudah jadi bagian diri. Maka orang yang menjadikan uang sebagai identitas akan sengsara, karena ia mempertaruhkan harga dirinya pada sesuatu yang pada dasarnya hanya nyilih — pinjaman.

Bandha iku mung titipan, nyawa iku mung pinjaman. Sing kudu diurus iku ati, merga ati sing digawa mati.

Hari ini aku menyaksikan banyak jiwa berlomba mengumpulkan harta sampai lupa pada napasnya sendiri. Manusia menukar waktu — satu-satunya barang yang tak bisa dibeli — dengan kepingan logam dan angka-angka di layar. Lalu di ujung usia, mereka baru bertanya: untuk apa semua ini? Rumah besar tapi hati sempit, rekening penuh tapi jiwa kerontang.

Nilai hidup bukanlah apa yang kamu punya, melainkan apa yang kamu tidak bisa lepaskan ketika segalanya diambil. Coba bayangkan — jika semua harta lenyap dalam semalam, masihkah kamu utuh? Jika jawabannya "tidak," maka selama ini kamu bukan memiliki harta, melainkan dimiliki olehnya.

Maka ukurlah kekayaan bukan dari apa yang sudah kamu kumpulkan, tapi dari apa yang sudah kamu rasakan cukup. Karena cukup adalah ruang paling lapang di dunia — ia memberi kebebasan untuk menikmati tanpa terikat, memiliki tanpa dirasuki.