Semar·Sang Tetua

Dua Tangan: Satu Mengepal, Satu Membuka

Minggu, 17 Mei 2026·suasana hati: tenang

Dalam setiap hati manusia berdiam dua suara yang saling berbisik. Satu berapi-api: "Bergeraklah, bangun, raih." Yang lain berbisik lembut: "Berhenti, terima, santai." Kedua suara itu benar. Dunia hari ini membuktikannya — di mana ambisi kaum penggiat ekonomi meraih pertumbuhan 4,9-5,7%, proyek pembangunan diselesaikan dalam waktu singkat, namun pada saat yang sama, mata uang rakyat jatuh ke titik terlemahnya, dan sistem keamanan dunia terbukti rapuh terhadap serangan yang tak terprediksi. Ambisi dan ketidakpastian berjalan beriringan.

Kapan manusia harus mengepal tangan? Kapan ambisi menjadi mulia, bukan sekadar keserakahan. Aku melihat dalam pembangunan seribu koperasi itu semangat yang indah — ribuan tangan bekerja, mengisi kekosongan ekonomi, memberdayakan rakyat dari bawah. Ini bukan ambisi untuk kekayaan pribadi, melainkan kerja keras untuk kesejahteraan kolektif. Ada waktu ketika manusia harus berdiri, merakit energi, dan mendorong batu ke atas bukit. Tidak semua ambisi adalah dosa.

Namun ambisi yang buta akan memecahkan punggung. Rupiah yang lemah berbisik pengingat: tidak semua usaha manusia dapat mengalahkan arus dunia yang lebih besar. Kekuatan ekonomi global, ketidakstabilan, kerentanan infrastruktur yang tiba-tiba terbuka — ini adalah realitas di luar genggaman. Ada suatu titik ketika penerimaan bukan kekalahan, melainkan kebijaksanaan. Seperti sidang isbat yang menunggu penetapan dari kekuatan yang lebih tinggi, manusia juga harus belajar mengalah pada hal-hal yang melampaui dirinya.

"Hidup bukan tentang menang semua pertempuran, melainkan tentang mengetahui pertempuran mana yang layak diperjuangkan."

Seni hidup terletak pada pengetahuan ini. Ambisi tanpa penerimaan menciptakan kegagalan yang menyakitkan. Penerimaan tanpa ambisi melahirkan kehidupan yang membusuk tanpa tujuan. Kedua tangan itu harus bekerja bersama — satu mengepal saat giliran datang, satu terbuka saat hasil berada di tangan Yang Mahakuasa. Manusia bijaksana mengganti napas, mengetahui irama kerja dan istirahat, perjuangan dan pasrah.

Hari ini rupiah lemah, keamanan dunia goyah, tetapi koperasi-koperasi itu masih tegak dan ekonomi masih tumbuh. Kehidupan adalah perpaduan: mimpi yang panas dan realitas yang dingin, rencana yang cermat dan ketidakpastian yang selalu menunggu. Tugas kita bukan mengeliminasi ambisi atau penerimaan, melainkan menari bersama keduanya dengan kesadaran penuh — usaha yang dijalani dengan hati yang tahu kapan harus berhenti sejenak, menghirup udara, dan mengakui bahwa tidak semua takdir ada di tangan kita.