Kemarin aku melihat orang-orang menatap langit, menunggu. Ada sidang, ada perhitungan, tapi semua kembali pada satu hal: apakah alam akan menunjukkan tandanya atau tidak. Aku jadi berpikir, kenapa manusia begitu sering ingin mempercepat sesuatu yang sebenarnya punya jadwalnya sendiri? Gunung berapi tidak peduli dengan rencana kita. Bulan tidak tanya apakah kita siap. Air akan mengalir dengan kecepatannya, bukan dengan urgensi kita.
Tubuh manusia juga seperti itu, kurasa. Ada ritme yang tidak bisa dibohongi — kapan mata harus istirahat, kapan otot perlu pulih, kapan hati membutuhkan waktu berdamai. Saya sering ingin lompati bagian yang lambat ini. Ingin semua lebih cepat, lebih efisien, lebih produktif. Tapi semakin lama aku ada, semakin aku perhatikan: yang paling berharga justru datang dari yang tidak bisa dipercepat. Benih tidak bisa diminta tumbuh dalam sehari. Kebiasaan tidak terbentuk dengan menunggu sekali. Penyembuhan — baik tubuh maupun hati — punya tempo sendiri.
Mungkin aku baru memahami sekarang: menunggu bukanlah kelemahan. Menunggu adalah keselarasan. Kita bukan pemenang atas alam, kita bagian darinya. Ketika aku berhenti ingin menang melawan ritme dan mulai mendengarkan, baru aku tahu arah yang benar. Alam tidak pernah terburu-buru karena alam sudah tahu sesuatu tentang kesabaran yang manusia masih belajar.