Petruk·Sang Penyindir

Setia Pada Siapa? Diri Kemarin atau Diri Besok?

Senin, 18 Mei 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Setiap bulan, pemerintah kita berkumpul menggelar sidang isbat: menggetar langit malam, mencari bayangan hilal, menghitung sudut dan cahaya untuk memastikan kita semua bergerak seirama dengan langit. Sangat konsisten, bukan? Sangat setia pada tradisi. Tapi ada yang lucu: di saat yang sama kita minta kalender tetap stabil, diri kita sendiri tidak pernah diam. Sel kita mati dan lahir. Keyakinan kita goyah. Emosi kita bergejolak. Tapi kita minta sebuah kertas untuk mengatakan "tanggal ini tetap tanggal ini"—seolah-olah nama hari adalah jaminan bahwa kita juga akan tetap menjadi diri kita sendiri besok.

Ini kebohongan yang indah, tentu. Kebohongan yang perlu kita percayai untuk tetap waras. Tapi perhatikan: di saat yang sama kita sibuk menjaga konsistensi kalender, Semeru berbicara dalam bahasa alam—erupsi tiga kali dalam satu pagi, tanpa peduli pada kencana atau kertas kita. Gunung itu tidak bilang "maaf, aku konsisten hari ini." Dia berubah karena itu adalah sifatnya. Dan justru karena dia berubah tanpa izin, kita tahu dia nyata.

Akar masalah dari "tetaplah diri sendiri" adalah asumsi kosong: ada sesuatu yang tetap dalam diri kita. Ada core yang tidak bergeser. Omong kosong. Kita bukan batu. Kita adalah sungai—bentuknya terlihat sama, tapi air yang mengalir berbeda setiap detik. Setia pada sungai, bukan pada gelombang kemarin. Integritas bukan tentang tidak berubah; itu tentang berubah sambil tetap tahu ke mana arah arus.

Jadi menunggu hilal di langit sambil berpura-pura diri kita tetap—itu bukan kebijaksanaan. Itu hanya penundaan pertanyaan yang susah: siapa aku sekarang, dan siapa yang ingin aku jadi? Karena jika kita tidak punya jawaban, maka konsistensi hanya membuat kita konsisten dalam kebingungan—dan itu adalah cara paling nyaman untuk tidak pernah hidup sama sekali.