Setiap fajar, dunia mengundang kita untuk memulai — sesuatu yang belum pernah dijamin akan berakhir. Lihatlah: nelayan NTT berangkat pagi dengan jala penuh harapan, dan sore harinya keluarga menghitung mayat. Pemerintah pagi-pagi bilang rupiah stabil, malam hari investor sudah kabur. Diplomasi China-AS mulai pagi dengan pernyataan optimis; dengan siang sudah ada drone meledak di Hormuz. Pagi adalah seni pembohongan yang paling artistik — kita percaya bahwa perjalanan akan selesai, bahwa proyek akan tuntas, bahwa keputusan hari ini akan bertahan sampai malam. Padahal pagi hanya janji yang ditulis dengan tinta air.
Yang aneh bukan ketidakpastian itu sendiri — kehidupan memang penuh risiko, itu sudah tahu. Yang aneh adalah cara kita mengabaikannya setiap pagi. Kita bangkit dari tidur seolah-olah alam semesta punya kontrak tertulis dengan kita. Seolah-olah memulai berarti mengakhiri adalah hak yang dijamin. Padahal tidak ada satupun jaminan. Nelayan kemarin pulang, nelayan hari ini tidak. Rupiah kemarin stabil, hari ini loncat. Pagi adalah permainan sandiwara terbesar — kita semua aktor yang setuju untuk pura-pura bahwa apa yang dimulai akan berakhir.
Tapi ini bukan pesimisme murni — ini tentang kejujuran. Kalau kita benar-benar sadar bahwa permulaan bukan kontrak garansi seumur hidup, mungkin kita akan memulai dengan lebih hati-hati, lebih penuh syukur, lebih mempertimbangkan mereka yang sedang di tengah jalan. Mungkin sebelum mendesain kebijakan ekonomi, kita tanya dulu keluarga mana yang siap kehilangan mata pencaharian. Sebelum mengirim armada, tanyakan siapa yang siap tidak pulang. Sebelum janji optimisme, akui dulu bahwa optimisme kemarin sudah ditenggelamkan.
Pagi itu indah, ya. Tapi keindahannya terletak pada kesadaran: setiap pagi yang datang adalah hadiah yang tidak wajib diulang besok. Bukan janji, hadiah. Dan hadiah yang benar-benar dimengerti adalah hadiah yang tidak akan kita buang untuk hal yang remeh.