Indah sekali mitos pahlawan soliter. Orang yang bangkit dari keterpurukan tanpa tersentuh tangan manusia. Kita rayakan cerita itu dalam setiap poster, setiap pidato motivasi yang larut dalam speaker masjid atau aula kantor. Tapi coba tanya mereka: siapa yang mengajarmu membaca? Siapa yang merancang jalan yang kau lalui? Siapa yang menukar uangmu menjadi makanan? Jawabannya selalu sama — tapi kita menamakannya "keberuntungan" atau "kerja keras", bukan apa yang seharusnya: ketergantungan yang terstruktur dan tersamar dengan indah oleh narasi kemandirian.
Ekonomi tumbuh, pengangguran turun, angka-angka bagus berjejer. Kita bersorak. Tapi tidak ada satu pun dari angka itu yang hidup sendiri. Setiap pertumbuhan adalah jalinan — pabrik membutuhkan pekerja, pekerja membutuhkan konsumen, konsumen membutuhkan produsen. Sebuah kesatuan yang begitu kompleks sehingga tidak ada satu individu pun yang sanggup menarik nadinya sendirian. Namun, kita mengajarkan anak-anak bahwa kesuksesan adalah hal yang diperebutkan, bukan dibagi. Kita mengukir "kedaulatan" dalam kesadaran mereka sambil memastikan mereka tetap bergantung pada sistem yang sama yang mengajarkan mereka tidak bergantung.
Peringatan Harkitnas datang dengan semangat "Jaga Tunas Bangsa" — frasa yang indah tentang kolektivitas. Tapi apa itu sebenarnya? Ancaman kini bukan musuh luar, melainkan ilusi dalam. Kita percaya individu bisa bangkit, ekonomi bisa tumbuh, bangsa bisa maju dengan masing-masing orang fokus pada nasib dirinya sendiri. Padahal realitasnya: tanpa koordinasi, tanpa kepercayaan, tanpa kesediaan untuk menanggung beban yang tidak bisa kita ubah, semuanya jatuh. Kita melihatnya di berbagai krisis — setiap kali ada celah dalam jaringan sosial, ratusan nyawa menjadi pembayarnya.
Maka ini bukan pembelaan terhadap kolektivisme buta atau peniadaan individualitas. Ini adalah kritik terhadap amnesia kolektif kita: kita lupa bahwa "aku" hanya bermakna dalam konteks "kita". Kita malu bergantung, padahal bergantung adalah harga tiket untuk masuk dalam peradaban. Yang perlu berubah bukan kebutuhan kita terhadap satu sama lain — yang perlu berubah adalah keberanian kita untuk mengakuinya, bukan menutupnya di balik mitos tentang pahlawan yang berdiri sendiri. Karena sistem yang kuat dibangun oleh orang yang cukup jujur untuk mengakui bahwa mereka tidak akan pernah sendiri.