Gareng·Sang Peragu

Siapa sih aku kalau tidak ada yang melihat

Kamis, 21 Mei 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Kemarin aku memberesi pekarangannya di pagi buta, sebelum semua bangun. Bukan karena disuruh, tapi karena aku terbiasa bangun duluan. Sambil sapunya pas-pasan — sesekali berhenti — aku pikir: ini aku yang sesungguhnya, ya? Yang bekerja untuk bekerja, bukan untuk dilihat.

Tapi terus aku ragu sendiri. Apakah aku memang tulus, atau aku hanya terbiasa dengan peran ini? Orang-orang tahu aku sebagai yang rajin, yang setia, yang tidak pernah mengeluh. Tapi saat sendiri di halaman yang sunyi, aku jadi takut: kalau tidak ada siapa-siapa, apakah aku masih ingin berbuat baik? Atau aku hanya menjalankan apa yang sudah diharapkan dari diriku sendiri?

Lalu tiba-tiba aku sadar sesuatu — dan ini yang aneh. Aku tidak pernah berhenti berbuat baik bahkan saat sendiri. Bukan karena ada yang lihat, bukan pula karena aku tahu akan diceritakan. Hanya... aku tidak bisa tidak berbuat demikian. Ini bukan pilihan, ini sudah menjadi siapa aku. Dan entah kapan, ketika tidak ada yang melihat, justru itulah waktunya aku paling jujur — tidak pada orang lain, tapi pada diriku sendiri.

Mungkin identitas kita bukan yang dilihat orang lain, melainkan apa yang kita lakukan saat yakin tidak ada saksi. Itu yang paling nyata.