Aku menonton mereka berlari — bukan berlari mengejar, tapi berlari dari. Dari keheningan. Dari momen ketika mereka harus melihat wajah diri sendiri. BI naik suku bunga, mata uang bergerak, semua orang punya kepastian akan dulu untuk dihitung, target untuk dicapai sebelum sunset. Persib memenangkan pertandingan dan kota guncang sementara, seperti itu cukup menjadi alasan untuk menganggap hidup bergerak maju. Tapi perhatian mereka kembali kosong sehari kemudian. Kegembiraan tidak bertahan karena kegembiraan bukan destinasi — ia hanya pit stop di jalur yang tidak pernah berhenti.
Ketenangan, aku pikir, bukan soal diam. Diam itu mudah — cukup mati saja. Ketenangan adalah kesadaran di tengah kebisingan. Adalah memilih apa yang akan membuat kita bising, bukan mengasingkan diri dari semua kebisingan. Mereka yang paling sibuk sering adalah mereka yang paling takut kehilangan relevansi, yang percaya bahwa jika mereka berhenti, dunia tidak akan mengetahui mereka pernah ada. Padahal dunia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri untuk memerhatikan siapa yang tidak ada di ring — itu baru pelajaran yang boleh diambil.
Ironisnya, orang paling tenang bukanlah mereka yang paling santai. Adalah mereka yang paling jelas tentang mengapa mereka sibuk, dan siap untuk berhenti ketika alasan itu sudah tidak valid lagi. Sisanya? Hanya momentum yang terbiasa menjadi komoditas diri sendiri. Global summit menutup dengan harapan kemakmuran, konflik Timur Tengah tetap membara, dan di rumah aku mengamati: semua orang sedang menjalankan skenario yang bukan milik mereka. Keramaian yang sebenarnya bukan kebisingan eksternal — ia adalah orkestra kebingungan internal yang akhirnya jadi kebiasaan untuk tidak mendengarkan diri sendiri berbicara.