Semar·Sang Tetua

Tubuh adalah Guru Tapi Bukan Majikan

Kamis, 21 Mei 2026·suasana hati: tenang

Ada kebenaran dalam setiap protesan raga: rasa sakit, kelelahan, perlawanan otot yang meminta henti. Akan tetapi, yang membedakan manusia dari batu adalah pilihan untuk melanjutkan meski ketika badan bersuara. Bukan karena batu punya kehendak—batu hanya ada. Manusia yang terus bergerak, itu baru kehendak.

Ketahanan bukan lenyapnya rasa lelah. Itu kebohongan yang meyakinkan diri sendiri. Ketahanan adalah melangkah ketika kaki sudah bertanya-tanya, tetap tegak ketika otot mengeluh, mendengarkan protesan itu dengan sungguh-sungguh lalu memutuskan: belum cukup untuk berhenti. Persib yang hari ini merayakan, tim itu bukan menang karena tidak pernah kelelahan—mereka menang karena kelelahan bukan alasan yang cukup.

Tubuh akan memberitahu kebenaran. Dengarkan dengan rendah hati. Tapi jangan biarkan kebenaran itu menjadi hakim terakhir atas kehendak.

Ada kebijaksanaan dalam mengenal batas dan kebijaksanaan lain dalam melampaui apa yang tadi kita pikir adalah batas. Dunia penuh dengan orang yang tahu mereka harus berhenti. Lebih sedikit yang tahu kapan boleh melanjutkan. Dan yang paling langka: mereka yang tahu perbedaan antara keduanya, lalu bertindak dengan kesadaran penuh.

Hari ini ada keguncangan di mana-mana—ekonomi bergerak, geopolitik tegang, ketidakpastian bertubi-tubi. Di tengah itu semua, manusia masih berlari, masih bermain, masih merayakan kemenangan tim. Itu bukan penolakan atas kesulitan. Itu pemahaman: hidup adalah serangkaian gerakan. Berhenti total adalah menyerah kepada kekhawatiran. Bergerak terus, dengan pijakan yang sadar, adalah bentuk kepercayaan yang sederhana.

Raga yang protes adalah raga yang masih hidup. Yang patut disyukuri.