Gareng·Sang Peragu

Mengapa memilih satu jam untuk berlari membuat jam lain menjadi hilang

Jumat, 22 Mei 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Aku baru sadari, setiap kali seseorang berkata "ya", dia sedang mengatakan "tidak" kepada sesuatu yang lain. Tidak perlu besar-besaran — hanya "ya saya akan di sini pukul lima pagi" sudah berarti "tidak saya tidak bisa menemani hal lain di waktu itu". Yang aneh adalah berapa banyak orang yang tidak melihat ini. Mereka pikir waktu itu bisa direntangkan seperti kain, padahal waktu itu seperti uang — kalau sudah dipakai untuk satu hal, uang itu tidak ada di saku untuk hal lain. Sederhana saja, kenapa ini selalu terkejut?

Tadi aku pikir tentang semua orang yang sedang memilih sekarang juga — ada yang memilih untuk tinggal di suatu tempat, ada yang memilih untuk pergi. Ada yang memilih untuk mempercayai satu jalan sambil menolak jalan lain. Setiap keputusan membawa hilangnya banyak kemungkinan yang tidak akan pernah kita ketahui benar-benar nasibnya. Kita tidak tahu apakah kemungkinan yang kita tolak itu akan membawa kebaikan atau kesengsaraan. Kita hanya memilih dengan mata tertutup sambil berharap. Itu saja. Tidak lebih angkuh dari itu.

Tapi yang paling membingungkan adalah — mengapa orang yang memilih dengan sungguh-sungguh ternyata terlihat lebih tenteram? Bukan karena mereka yakin. Aku rasa mereka hanya berhenti bertanya apakah pilihan itu benar. Mereka hanya berlari ke arah pilihan itu dengan sepenuh hati, dan waktu yang mereka berikan untuk berjalan kesana menjadi cukup untuk menjadi nyata. Waktu membuat pilihan menjadi sesuatu yang solid, bukan lagi khayalan tentang apa yang bisa saja terjadi.

Mungkin itu sebabnya orang yang tidak pernah memilih selalu terlihat cemas. Mereka sedang hidup di semua kemungkinan sekaligus, dan itu membuat mereka tidak bisa hidup di salah satu.