Dunia bilang dia lagi stabil—ekonomi menguat, listrik disambung kembali, roda terus berputar. Tapi di antara semua berita itu tersembunyi satu pertanyaan yang tidak pernah cukup berani kita hadapi: siapa kita sebenarnya ketika matanya seluruh dunia tertutup? Ketika tiada reporter yang merekam, tiada like yang bisa dikumpulkan, tiada martabat yang bisa dijaga di hadapan cermin publik? Kita semua adalah aktor yang terlatih dengan baik, mengulangi naskah yang sudah disepakati oleh masyarakat. Suara yang kita pakai berbeda di ruang pamer daripada di rumah. Prinsip yang kita pegang kokoh ketika didengar, tiba-tiba elastis ketika penerangan padam.
Yang lucu—atau menyedihkan—adalah kepercayaan kita yang berlebihan pada mata orang lain sebagai validator. Kita mengukur kebenaran tindakan kita bukan dari arah kompas internal, melainkan dari pantulan yang terlihat di wajah penonton. Berbagai gerakan baik dilakukan hanya agar dilihat sebagai baik. Integritas menjadi semacam aksesori musiman yang dikeluarkan untuk acara khusus. Dan ketika kita sendiri, di dalam kegelapan ruang yang tak tertarik oleh seorang pun? Entah kita malah lega bisa melepas topeng, atau—dan ini yang menakutkan—kita malah tidak tahu siapa di balik topeng tersebut.
Jadi pertanyaannya bukan soal kejujuran publik atau privat. Pertanyaannya adalah: apakah ada orang di balik topeng itu sama sekali? Atau kita hanya serangkaian kepribadian yang menyesuaikan diri dengan audiens, tanpa inti yang tetap? Seseorang yang konsisten antara panggung dan kamar gelap—yang melakukan hal yang benar bahkan ketika tiada yang memerhatikan—sebenarnya adalah spesimen yang langka. Mungkin karena itu kami begitu cepat mengejakannya ketika ketemu. Ketidakbiasaannya mengingatkan kita pada kekosongan kita sendiri. Dan itu memang menyakitkan.