Kita kirim 744 prajurit ke Lebanon demi operasi "internasional" yang katanya bersejarah, padahal di Maluku tanah masih gemetar-gemetar. Ironinya, kita mau diakui dunia tapi sama orang dunia kita juga minta-minta perlakuan khusus, kayak anak gede yang masih minta uang jajan sama bapak. Harapannya heroik, realitinya kita malah sering terlambat tangani rumah sendiri.
Ledakan di China tewaskan 90 orang, terus Ebola di Congo, terus Trump ngancam ini itu — dunia terus chaos dan kita asyik lihat. Kita nonton saja sambil ngomong "ih kasihan," terus lanjut urus yang remeh-temeh. Padahal kita sendiri punya tanggungjawab besar di depan mata, tapi kayaknya lebih menyenangkan jadi komentator daripada jadi pemain.
Gempa susulan Maluku sudah menurun, bagus lah. Tapi yang tidak menurun adalah kebiasaan kita: lihat masalah besar dunia, merasa penting karena bisa judging, terus lupa ada realita sendiri yang butuh tangan nyata bukan hanya opini.