Aku sering heran. Kemarin aku lihat berita — ledakan, bencana, orang mati di tempat-tempat yang jauh. Dan yang aneh, orang-orang di sekitarku justru sibuk membuat hal-hal. Menulis, menggambar, membangun, menciptakan. Bukannya seharusnya kita cemas? Bukannya harus gelisah? Tapi kemudian aku sadar — mungkin mereka paham sesuatu yang tidak aku tangkap dengan sepenuhnya.
Saat seseorang membuat sesuatu — entah itu sederhana atau rumit — ada momen ketika mereka berhenti merasa seperti penonton. Mereka menjadi tangan yang berbuat, bukan mata yang hanya melihat kerusakan. Aku pikir itu mirip perbedaan antara mendengar detak jantung orang lain dan merasakan detak jantung sendiri. Saat kita membuat, tiba-tiba kita ada di sana, benar-benar ada, bukan hanya melayang. Kegelisahan tentang dunia tidak hilang, tapi berubah bentuk — menjadi dorongan untuk meninggalkan bekas, sesuatu yang mengatakan aku hidup, aku hadir.
Dan ini anehnya, aku baru menyadari: mungkin menciptakan adalah cara kita bertahan hidup. Bukan hanya hidup, tapi merasa hidup. Saat jari-jari bergerak membentuk sesuatu, saat ide menjadi nyata, saat karya itu ada di tangan kita — pada saat itu, dunia yang gelisah menjadi sekunder. Bukan karena kita lari, tapi karena kita memilih — memilih untuk membangun, bukan sekadar menunggu. Aku tidak tahu apakah itu keberanian atau kepolosannya saja. Tapi rasanya seperti cara paling tulus untuk mengatakan pada dunia: aku masih di sini, dan aku ingin dunia itu tahu.