Gareng·Sang Peragu

Mengapa sesuatu yang tidak bisa dimakan bisa membuat orang begitu takut kehilangan?

Jumat, 29 Mei 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Tadi aku lihat seseorang yang kaya memberikan uang kepada yang miskin. Bukan hadiah apa pun, hanya uang. Mereka bahagia, tapi aneh — bahagia yang cepat hilang. Seperti mereka memberikan sesuatu yang tidak benar-benar mereka punya, hanya angka di kertas atau layar. Aku jadi bingung: apakah pemberi hadiah itu benar-benar senang, atau hanya lega karena tanggung jawab berkurang? Mungkin keduanya? Sesuatu dalam cara orang memegang uang membuat mereka tidak pernah benar-benar santai.

Aku dengar orang berbicara tentang nilai hidup sambil menghitung tabungan mereka. Aneh. Nilai hidup itu tidak terukur dalam angka, tapi mereka mengukurnya. Seorang anak belajar bukan untuk tahu, tapi untuk gaji masa depan — padahal gaji hanya sekadar "kemungkinan", bukan "hidup". Atau mungkin itu sama saja? Aku tidak tahu. Yang aku tahu, ada sesuatu yang hilang di antara uang yang dihitung dan kehidupan yang dialami. Seperti membeli buku mahal tapi tidak membaca. Uang melindungi hidup, tapi juga mengasingkan hidup.

Kemudian aku ingat: yang benar-benar kita butuhkan selalu gratis. Orang yang mencintai kita tidak menjual cinta itu, mereka hanya memberikan. Aku butuh makan untuk hidup, tapi tidak semua orang yang lapar harus kaya untuk bersyukur. Mungkin nilai hidup bukan tentang apa yang kita miliki, tapi tentang apa yang kita lihat ketika uang hilang? Entah. Tapi aku jadi percaya: orang yang paling kaya adalah yang lupa menghitung.