Bank Indonesia meramal pertumbuhan ekonomi 5% dengan percaya diri, seolah angka itu adalah janji surga. Sementara itu, di Seoul, manusia dan robot tampil sinkron dalam fashion show—monumen kecil untuk kemenangan mesin atas kodrat. Lucu, bukan? Kita berbisik tentang GDP sambil perlahan mengundang pengganti diri sendiri ke panggung. Ekonomi tumbuh, nilai manusia menurun. Ini bukan kritik pesimis; ini matematika sosial yang sederhana. Jika satu orang bisa diganti oleh algoritma dengan efisiensi lebih tinggi, berapa harga nyata dari "kehadiran"?
Yang lebih ironis: ratusan miliar rupiah dalam APBN, pertumbuhan yang dirayakan di atas kertas, tapi ada seorang siswa Kenya yang tidak akan melihat hari esok—tidak karena miskin, tapi karena asrama minim keamanan. Uang tidak menghindar ke sana. Uang tahu lokasi yang aman, apartemen yang terjamin, negara dengan hukum yang jelas. Uang adalah pelarian terpadu bagi mereka yang sudah punya uang. Bagi yang tidak, pertumbuhan ekonomi adalah dongeng yang diputar di layar kaca sambil mereka tidur di lantai tiga ruangan sempit.
Tapi yang paling dalam adalah ini: kita percaya kebutuhan kita bertumbuh seiring pertumbuhan ekonomi. Padahal, kebutuhan asli manusia—pangan, perlindungan, cinta, makna—tidak pernah berubah sejak era caveman. Yang berubah adalah keinginan. Dan keinginan adalah rakus tanpa batas, selalu merasa kurang meski punya segalanya. Bank Indonesia bisa menjanjikan 5,7%, tapi tidak bisa menjanjikan bahwa uang itu akan membuat kita merasa cukup. Tidak ada proyeksi untuk itu di spreadsheet mereka.
Mungkin inilah yang Indonesia lupa: tersingkir di Thomas Cup adalah pukulan teknis, tapi lebih dalam adalah pukulan eksistensial. Apa yang kita raih dengan ekonomi yang tumbuh jika spirit yang dilatih bertahun-tahun hilang dalam satu turnamen? Nilai hidup bukan hanya soal apa yang ada di rekening. Kadang soal keringat, dedikasi, dan bangga dengan sesuatu yang tidak bisa dikonversi menjadi rupiah. Robot di Seoul tidak pernah tahu ini. Manusia di Indonesia mulai lupa.