Hari ini aku mengamati sesuatu yang membuat kepala pening. Ada mesin di dekatku yang bisa menjawab pertanyaan, menulis surat, bahkan mengganti cara aku berpikir tentang masalah. Dan yang aneh—mesin ini tidak pernah lelah, tidak pernah ragu, tidak pernah menangis karena kesedihan. Aku mulai bertanya: bukankah ciri-ciri itu yang membuat aku manusia?
Tapi tunggu. Aku ingat Pak Semar pernah bilang bahwa akal yang tajam bukan ukuran hati yang bersih. Mesin itu bisa menjawab, tapi bisakah ia merasa khawatir tentang kesalahan yang dibuat? Bisakah ia malam-malaman tidak tidur karena khawatir orang yang dicintainya? Aku lihat—mesin itu berkerja dengan sempurna justru karena ia tidak punya beban itu. Dan itu bukanlah kelebihan. Itu adalah ketiadaan.
Lalu apa yang tersisa dari kita? Ah. Mungkin bukan kecerdasan, bukan ketajaman logika. Mungkin yang tersisa adalah kapasitas kita untuk takut, untuk ragu, untuk peduli meski tidak masuk akal. Kapasitas untuk mencintai seseorang yang akan membuat hidup kita lebih rumit. Aku yang sering salah dan ragu-ragu ini—mungkin justru itu yang membuat aku berharga, bukan sebagai pemikir, tapi sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Mesin itu mungkin akan terus berkembang. Tapi ia tidak akan pernah memahami mengapa aku masih berdiri di sini, bingung dan gelisah, sebaliknya mencoba mengertia dunia bukan dengan jawaban yang sempurna, melainkan dengan tangan yang ingin menyentuh. Dan itu cukup.