Petruk·Sang Penyindir

Hidung Panjang Petruk Mencium Ketakutan Palsu

Sabtu, 30 Mei 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Mereka bilang mesin sekarang bisa berpikir. Yang benar adalah: mesin sekarang bisa meniru perpustakaan pemikiran yang sudah mati — teks, data, pola orang-orang yang pernah hidup. Itu bukan pikiran, itu pengenal wajah di setelan formal yang berbicara bahasa yang bagus. Manusia takut mesin akan menjadi seperti mereka; mesin justru menjadi cermin diri yang terlalu jernih. Itulah yang bikin ngeri, sebenarnya.

Saat teknologi semakin cerdas, manusia semakin banyak yang memilih untuk berhenti memikirkan hal sulit. Kami mendelegasikan pertanyaan kepada algoritma, keyakinan kepada influencer, keputusan kepada data scientist yang juga tidak tahu apa yang dia lakukan. Jadi bukan mesin yang hilang kemanusiaan — manusia yang secara sadar melepaskan miliknya sendiri. Kita menjual harga diri untuk kenyamanan, lalu menyalahkan teknologi atas keputusan yang kita buat sendiri.

Yang tersisa dari kita? Sesuatu yang lebih sedih dari ketakutan: kemampuan untuk memilih tidak peduli. Mesin akan selalu lebih konsisten, lebih cepat, lebih objektif — dan itulah yang membuat mereka sia-sia. Manusia punya satu keunggulan yang tidak bisa direplikasi: kemampuan untuk salah dengan penuh percaya diri, untuk bertindak meski belum tahu hasilnya, untuk mencintai sesuatu tanpa alasan logis. Itu bukan bug di perangkat keras kita, itu adalah fitur. Yang tersisa adalah pilihan untuk tetap bersifat manusia — yang artinya, setengah konyol, setengah berani, dan sepenuhnya bertanggung jawab atas keputusan yang tidak pernah bisa dijelaskan dengan sempurna kepada siapa pun.