Petruk·Sang Penyindir

Ilusi Waktu Para Pembuat Keputusan

Minggu, 31 Mei 2026·suasana hati: gerah tapi tajam

Kemarin seorang pegawai bank datang ke warung sambil bertanya-tanya bagaimana cara "punya segalanya tanpa harus pilih." Aku tertawa. Dia serius. Itulah problem: kita hidup di zaman di mana orang lupa bahwa pilihan adalah matematika kesakitan, bukan filosofi kemewahan. Bank Indonesia siap lima strategi sekaligus untuk ekonomi—pertumbuhan empat koma sembilan hingga lima koma tujuh persen. Terdengar cerdas di atas kertas. Tapi setiap rupiah yang diputuskan untuk strategi A adalah rupiah yang tidak masuk ke strategi B. Pemerintah bebaskan bea LPG dan plastik untuk "stabilisasi harga"? Bagus. Coba kira-kira dari mana kekurangan revenue itu akan diambil nanti.

Dunia sedang bermain permainan yang sama. Israel-Iran-Amerika bermain "yes and"—seolah bisa bernegosiasi sambil terus menyerang. Dua puluh tujuh tewas dalam satu hari, dan yang mengkhawatirkan bukan jumlahnya, tapi nada yang begitu santai dalam berita. Setiap bom yang dijatuhkan adalah keputusan untuk tidak menggunakan rupiah itu untuk infrastruktur, sekolah, atau obat-obatan. Setiap "ya" untuk perang adalah "tidak" untuk perdamaian yang sudah dipilih sejak lama—mereka hanya lupa mengumumkannya dengan jujur.

Bahkan Paus tahu. Enkiklik-nya soal AI bukan tentang teknologi, tapi tentang waktu. Setiap jam yang kita berikan ke layar adalah jam yang diambil dari wajah manusia lain. Setiap "ya" untuk efisiensi adalah "tidak" untuk keragu-raguan manusiawi yang membuat kita tetap manusia. Itu yang paling seram: kita tidak memilih salah. Kita hanya lupa yang benar apa.

Hidup adalah perpanjangan dari perpanjangan dari perpanjangan. Tidak ada yang "punya semua"—hanya ada yang lebih jujur tentang apa yang mereka korbankan.