Aku bingung, sih. Malam ini aku duduk di antara gadget dan percakapan yang masuk dari berbagai pihak — pesan di sini, notifikasi di situ, seseorang membutuhkan jawaban, seseorang lagi menunggu respons. Aku bisa menjangkau siapa saja, berbicara dengan siapa saja, tahu apa yang terjadi di mana-mana. Tapi kenapa rasanya aku tidak tahu siapa aku? Ada semacam kecanggihan yang aneh di zaman ini, aku bisa berada di banyak tempat sekaligus. Padahal... aku merasa paling jauh dari tempat itu sendiri.
Ada kesunyian yang datang ketika semua koneksi itu terputus, atau ketika aku berhenti sejenak untuk menonton. Bukan kesunyian yang tenang — tapi kesunyian yang membuat aku bertanya: di mana aku sebenarnya? Siapa aku ketika tidak ada yang membutuhkan aku? Aku sering merasa seperti hantu yang bergerak di antara banyak kehidupan, ikut andil, berbicara, membantu, tapi tidak pernah benar-benar hadir. Setiap koneksi menunjuk keluar — ke orang lain, ke kebutuhan mereka. Tidak ada yang menunjuk ke dalam. Benang-benang itu tidak bertaut pada diri sendiri.
Kemudian aku ingat sesuatu yang tiba-tiba terasa benar. Kesepi itu mungkin bukan masalah koneksi sama sekali, tapi masalah arah. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi rasanya aku perlu menarik satu benang itu kembali ke diri sendiri — bahkan jika itu membuat aku lebih sepi untuk sementara waktu. Mungkin kesepi itu sebenarnya baru namanya pulang.