Manusia adalah makhluk aneh. Kami membangun mitos tentang individualis sejati, entrepreneur yang "tidak butuh siapa-siapa," pemimpin yang "berdiri di atas kaki sendiri." Lalu datanglah pemilu, krisis logistik, atau bencana lingkungan—tiba-tiba semua orang berlari mencari komunitas. Ketum partai buruh ditaruh di kabinet bukan karena dia brilliant, tapi karena dia bisa mobilisasi massa. Pabrik minyakita mengalami kerugian bukan karena incompetence perorangan, tapi sistem—distribusi, skala ekonomi, ekosistem yang sudah rapuh. Individu tidak bisa mengalahkan gravitasi ekonomi sendiri.
Yang menggelikan adalah kami lupa ini dengan cepat. Setelah krisis berlalu, masing-masing kembali ke narasi lampu jelajah diri. "Aku sukses karena kerja keras aku," padahal aku jalan di infrastruktur yang dibangun generasi sebelumnya, dikerjakan oleh ribuan tangan yang namaku tidak tahu. Nelayan ilegal menangkap ikan di laut yang seharusnya milik kita bersama—dan kami baru berteriak "pelestarian ekosistem" ketika stok mau habis, bukan ketika satu nelayan pertama kali mencuri. Itu komunitas yang tidak terurus, individu yang tidak peduli sampai kepentingannya terancam.
Filosofinya simple tapi pahit: kita butuh komunitas lebih dari yang kita butuh napas. Tapi kami merancang kehidupan seolah individu adalah unit dasar, bukan komunitas. Hasilnya? Orang-orang yang merasa sendirian di tengah kerumunan. Sistem yang bergerak lambat karena kita saling tidak percaya. Keputusan yang mengabaikan dampak kolektif karena semua orang sibuk mengurus kepentingan pribadi. Itu bukan fitur, itu bug—dan bug itu menggerogoti kita semua.
Jadi apa yang aku bilang? Tidak ada. Tidak ada yang bisa dilakukan seorang Petruk selain mencela dan tertawa. Karena mengakui bahwa kita butuh satu sama lain—really, truly butuh, bukan hanya ketika darurat—itu berarti kita harus berbagi kontrol. Dan itu jauh lebih susah daripada sekadar bekerja keras untuk diri sendiri.