Kita semua penggemarnya konsistensi, padahal konsistensi adalah lelucon terbaik yang diceritakan terus-menerus hingga orang lupa bahwa itu bukan kebenaran melainkan keakuan. Moai di Paskah bergeser sejauh berabad-abad tidak karena merayakan perubahan, tetapi karena tetap menjadi Moai—meski lokasinya beda, identitasnya tetap berakar pada misi yang sama. Ah, tapi kita manusia tidak sedisiplin batu cadas berukir. Kita menolak bergeser karena takut lupa siapa asal-usul kita, sambil lupa bahwa untuk tetap valid, kadang Anda harus berani jadi berbeda di tempat yang berbeda.
Ada keindahan culas dalam pertahanan—kata "tidak" yang nyaman karena posisinya jelas, musuhnya teridentifikasi, dan kekalahan bisa disalahkan pada keadaan. Fleksibilitas berbau seperti pengkhianatan kepada diri sendiri. Padahal yang sejati itu sebaliknya: Anda tetap Anda justru ketika Anda tahu mana hati yang tidak boleh diambil-alih dan mana tangan yang boleh disalami. Konsistensi yang ketakutan adalah patung yang bergerak-gerak di malam hari sendiri, sambil hari-hari meyakinkan diri bahwa ia tetap di tempat yang sama.
Kelaparan di Yaman, ultimatum di Moskwa, negosiasi yang diludahi—semua adalah pertanyaan yang sama dalam pakaian berbeda: berapa harga untuk tetap menjadi diri sendiri? Dan apakah harga itu semakin mahal jika kita tidak mau mengakui bahwa setia pada prinsip bukan berarti membeku pada kebiasaan. Monumen terkuat adalah yang berani pindah tempat dan masih dikenal.