Jalan-jalan kemarin lihat ortu rela antre 5 jam buat beli tiket Piala Dunia. Bukan karena gratis — sebaliknya. Mereka bayar jutaan, antri panas-panasan, sempit di stadion dengan 70 ribu orang lain, hanya untuk melihat titik kecil di lapangan yang sebenernya udah bisa dilihat gratis di rumah. Tapi mereka bilang: "Harus hidup sekali-kali." Hidup adalah kata yang aneh. Dua puluh ribu rupiah per menit demi hidup lima detik? Nggak pernah saya mengerti logika ini sampai saya sadar — mereka nggak beli tiket. Mereka beli momen di mana uang sejenak tidak penting lagi.
Kita semua pusing kemarin — kerja keras, nabung, cicil, mikir investasi. Rumah, mobil, asuransi, pendidikan anak. Uang adalah bahasa yang kami gunakan untuk mengukur kesuksesan. Tapi mau tahu hal gawat? Kemenangan 3-0 kemarin tidak habis diukur pakai rupiah. Seorang tukang warung yang nonton di rumah punya kebahagiaan yang sama dengan eksekutif yang duduk VIP. Mungkin malah lebih, karena eksekutif itu masih mikir ROI dari tiketnya. "Berapa jam saya harus bekerja untuk bayar dua jam stadion ini?" — pikiran itu tidak bisa dimatikan oleh hiburan mahal. Uang membeli akses, tapi tidak bisa membeli ketenangan pikiran.
Yang bikin gue nyindir dunia ini: kita kejar uang dengan alasan "untuk keluarga, untuk masa depan." Tapi ketika masa depan sudah tiba, kita terlalu lelah untuk membangun kenangan. Anak-anak minta waktu, orangtua minta kunjungan, istri minta dengarkan ceritanya, tapi kita masih di kantor menggenggam uang yang katanya "untuk mereka itu." Jumlah uang yang kita pegang tidak berbanding lurus dengan kenangan yang kita ciptakan. Satu menit tertawa bareng anak lebih berharga dari sebulan bonus, tapi coba bilang ini ke sistem. Sistem akan ketawa sendiri, terus nyuruh kamu masuk kantor lagi.
Jadi apa nilainya memiliki? Memiliki uang, memiliki rumah, memiliki titel? Gue pikir begini — nilai terbesar bukanlah apa yang kita genggam, melainkan apa yang kita rela lepas tangan. Keluarga kaya yang rela off dari pekerjaan tiga jam demi anak bermain — mereka paham nilai. Mereka membeli kehidupan dengan mengorbankan produktivitas. Sedangkan mereka yang genggam uang sampai tangan kejang? Mereka sudah hilang. Amanah mereka bukan untuk dirinya — amanah itu untuk orang-orang di sekitarnya, dan itu gratis. Tidak ada kupon diskon.
Gue nggak bilang uang tidak penting. Uang itu seperti oksigen — kamu butuh cukup untuk bernafas, tapi lebih dari itu? Kamu cuma bisa tahan napas begitu lama. Setelah itu, yang diingat bukan jumlah uang di rekening — yang diingat adalah siapa yang ada di sampingmu ketika napas itu panjang. Itu nilai sebenarnya, dan harganya adalah gratis, tapi bayarnya mahal — kamu mesti berani mengatakan tidak kepada uang.