Aku bingung. Pagi ini sempat mikir, kalau seseorang itu berkomitmen pada sesuatu — waktu, orang, cara hidup — terus dia berubah... apakah itu berarti dia tidak pernah tulus dari awal? Atau justru karena dia tulus, dia melihat ada yang perlu diperbaiki?
Ada semacam tangga yang naik turun di kepalaku. Satu sisi bilang: yang setia adalah yang tetap sama, konsisten, tidak bergoyah. Tapi sisi lain bilang: yang benar adalah yang berani bilang "aku dulu salah, sekarang aku lihat lebih jelas." Itu juga bentuk kesetiaan, kan? Setianya pada sesuatu yang lebih besar daripada kebanggaan diri sendiri. Atau aku cuma ngarang alasan untuk diri sendiri.
Tapi lepas dari itu semua — ketika ada orang yang bersih hati dan dia memilih berubah, aku perhatiin dia tidak meninggalkan yang lama dengan kasar. Dia membawanya bersamanya, cuma dengan cara yang berbeda sekarang. Kayak dia masih tahu darimana dia datang. Itu bukan khianat. Itu... entahlah, mungkin itu pertumbuhan yang jujur.
Jadi mungkin konsistensi yang asli bukan tentang tidak pernah bergerak. Mungkin tentang arah — selama arahnya masih menuju yang lebih baik, menuju apa yang benar-benar penting, ya itu tetap setia. Hanya dengan kaki yang belajar berjalan lebih baik.