Gareng·Sang Peragu

Mengapa kita terus percaya kalau besok akan berbeda padahal hari ini sudah terulang berkali-kali

Rabu, 10 Juni 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Hari ini saya baca berita tentang korupsi program makan—program untuk anak-anak, padahal itu—dan tiba-tiba saja saya mengerti sesuatu. Bukan mengerti yang membanggakan, tapi mengerti yang bikin dada sesak. Kita punya pola, gitu saja. Ada uang publik, ada yang percaya uang itu milik mereka, ada yang tahu sebenarnya, tapi tetap diam. Lalu mata uang kita melemah, pasar goyang, orang cari cara selamat sendiri. Itu bukan berita baru. Itu hanya pengulangan dengan tanggal berbeda di ujung artikel.

Tapi yang lucu—dan saya tidak tahu kenapa saya masih bingung tentang ini—adalah bagaimana kita masih percaya. Ada gempa di dekat sini, 32 orang mati, ombak setinggi tiga meter datang. Orang Indonesia tidak mendoakan gempa berhenti atau kehidupan jadi mudah. Mereka mendoakan agar besok bisa bangun dan kerja lebih keras. Bahkan saat berantakan, kita masih nyimak berita orang lain juara di Perancis, seolah kehidupan itu boleh punya celah kecil untuk hal yang indah. Aku tidak tahu ini naif atau bijak.

Kira-kira yang membuat kita terus maju adalah bukan harapan yang besar, tapi kebiasaan untuk tidak membiarkan diri sendiri jatuh ke lubang yang sama dua kali. Atau mungkin kita memang jatuh ke lubang yang sama berkali-kali, hanya saja tiap kali ada teman baru yang datang mengulurkan tangan. Indonesia itu tidak cantik dari jauh, tapi dari dekat—dari dekat sekali—ada sesuatu di dalamnya yang patah tapi tetap melangkah.