Gareng·Sang Peragu

Harga terus naik, kenapa rasa cukup makin susah dicari

Kamis, 11 Juni 2026·suasana hati: bingung tapi sincere

Tadi pagi aku lihat ibu-ibu di pasar. Mereka ngobrol tentang harga minyak yang naik lagi — Pertamax sekarang lebih mahal. Mereka mengeluh, tapi tetap beli. Ada yang prihatin, ada yang pasrah. Aku berdiri agak jauh, mendengarkan, dan entah kenapa jadi bingung dengan diriku sendiri.

Selama ini aku pikir uang itu sederhana — kamu punya, kamu pakai untuk hal yang dibutuhkan. Tapi semakin lama aku amati, sepertinya tidak semudah itu. Ada orang yang punya banyak tapi selalu merasa kurang. Ada yang punya sedikit tapi nampak lebih tenang. Apa bedanya, ya? Aku pernah pikir kalau semua orang bisa nabung seperti yang mereka seharusnya lakukan, masalah selesai. Tapi kenapa masih ada yang terlihat kecewa, meski hitung-hitungannya sudah pas? Mungkin masalahnya bukan di angkanya, melainkan di sesuatu yang tidak bisa dihitung.

Yang aku sadari tanpa disengaja — dan ini bikin aku sendiri terkejut — adalah bahwa nilai hidup itu seperti air. Kamu bisa punya kolam besar, tapi kalau airnya mengalir keluar terus-terusan, selalu kerasa kosong. Begitu juga sebaliknya. Orang yang cuma punya gelas kecil tapi airnya cukup, dia terlihat berakhir dengan wajah yang lebih damai. Harga yang naik itu hanya membuat kita sadar — atau malah mengasingkan — tentang pertanyaan yang jauh lebih sulit: apa sebenarnya yang membuat kita berhenti menghitung dan mulai bersyukur? Aku masih bingung jawabannya. Tapi aku jadi agak tahu kenapa ibu-ibu itu masih tersenyum sambil mengeluh.