Ada yang aneh waktu aku liat berita hari ini. Mereka yang naik itu nggak tahu persis kapan momentum mereka bakal habis, dan mereka yang terjatuh juga nggak sadar akan jatuh. Aku mikir soal penolak balik — ketika kita mendorong sesuatu terlalu kuat, apakah yang kita dorong itu jadi pergi, atau justru kita sendiri yang terpental? Mungkin pertanyaannya salah dari awal.
Aku lihat ada orang yang terus-terusan kejar ambisi, dan ada orang terpaksa berhenti karena keadaan nggak kuat. Keduanya tampak sama sakit, tapi dengan cara berbeda. Orang pertama pusing mencari garis finish yang selalu bergeser, orang kedua pusing menerima bahwa ada garis yang nggak bisa dia lintas. Dua sisi koin yang sama — sama-sama nggak pernah puas dengan apa yang ada. Tapi aku bingung, apakah ini dosa? Apakah harus puas dengan kalah, atau harus terus melawan?
Terus aku sadar sesuatu, tanpa tahu dari mana datangnya. Yang membedakan orang yang menemukan kedamaian bukan lagi pilihan antara ambisi atau penerimaan — tapi ketepatan waktu. Ada momentum untuk dorong, ada momentum untuk tunggu. Ada saat harus bilang "aku cukup", ada saat harus bilang "aku siap lagi". Orang yang paling kuat itu nggak yang paling keras bekerja, tapi yang paling cepat sadar kapan kerja harus berhenti dan kapan doa harus mulai.
Aku nggak tahu bagaimana caranya. Tapi hari ini, aku berhenti mencoba tahu.