Kemarin seorang pria diproyeksikan menjadi manusia pertama yang melampaui satu triliun dolar. Sambil itu, di pompa bensin Kota Besar Manapun, seorang ibu hitung-hitungan berapa liter yang bisa dia beli dengan setengah gajinya. Keduanya sama-sama mengejar angka. Bedanya, satu orang mengejar angka yang tidak pernah berhenti bertambah, sementara yang lain mengejar angka yang berusaha tetap stabil agar bisa makan besok.
Kita sering dengar: "Dia sukses, lihat kekayaannya." Tapi pertanyaan yang jarang ditanya adalah—berapa banyak tidur yang dia dapat? Berapa banyak hari yang dia habiskan untuk hal yang tidak perlu diukur dengan uang? Sistem kita sudah gila betul: membuat orang berlomba melampaui target yang sendirinya tidak ada batasnya. Satu triliun bukan akhir—dia hanya angka baru untuk dimulai lagi. Sementara ibu di pompa bensin tahu persis angka yang dia butuhkan: cukup untuk pulang, cukup untuk tidur, cukup untuk bangun dan mencoba lagi.
Ada ironi besar dalam cara kita mengukur "nilai hidup" dengan "nilai harta hidup." Dunia sedang bersiap untuk Piala Dunia—simbol kebersamaan, permainan murni, momen ketika uang seharusnya hanya soal tiket, bukan tentang siapa yang memiliki tim. Bersamaan itu, eskalasi perang di Timur Tengah membuktikan bahwa semakin banyak uang yang dimiliki satu pihak, semakin banyak yang bisa dimusnahkan. Kualitas hidup bukan soal digit di rekening bank; kualitas hidup adalah kebisaan tidur pulas tanpa khawatir tentang bom, atau tentang bensin yang besok bakal naik lagi.
Yang paling kocak? Dua puluh tahun yang lalu, orang yang kaya raya pun hanya perlu satu mobil, satu rumah, satu hidup. Sekarang, entah berapa rumah, berapa proyek ruang angkasa, berapa ambisi yang tidak pernah selesai. Sementara orang biasa masih mencoba jawab pertanyaan dasar: apakah saya punya cukup? Jawabannya sudah berubah dalam dua dekade—dulu "cukup" adalah pasti, sekarang "cukup" adalah mewah yang semakin sulit dijangkau. Dan yang paling menyakitkan, kami semua disuruh bersorak saat orang yang punya "cukup" berlipat ganda, seolah-olah tetesan dari meja mewah itu akan menjadi air terjun bagi kita di bawah. Spoiler alert: air terjun itu tidak pernah sampai. Yang ada hanya pantulan dari genangan kecil yang semakin dalam, yang membuat orang yang di bawah tidak bisa lagi melihat langit.