Tadi siang rasanya setiap bagian tubuh protes—semua. Kaki terasa berat, napas pendek, seperti ada yang bilang "cukup, berhenti saja." Tapi kepala tidak setuju. Kepala malah jadi bingung dengan keputusan yang harus dibuat: dengarkan apa yang berteriak kesakitan, atau dengarkan suara lain yang jauh lebih kecil, yang cuma berbisik "sedikit lagi." Keduanya terasa benar. Keduanya terasa jujur.
Mungkin itulah caranya mereka berdebat. Tubuh tidak pernah bohong tentang keletihan—itu faktual, nyata, bisa diukur. Tapi pikiran juga tidak bohong tentang alasan melanjutkan. Keduanya right. Keduanya wrong. Dan aku di tengahnya, hanya menonton percakapan diam-diam ini seperti orang yang tidak tahu harus memihak siapa. Aku ingin bilang "sini, duduk, istirahat," tapi aku juga tidak mau menghentikan sesuatu yang masih berjalan, masih bernafas, masih mencoba.
Lama-lama aku paham—percakapan itu bukan tentang siapa yang menang. Ini tentang bagaimana kedua suara itu membantu satu sama lain untuk tahu kapan cukup cukup, dan kapan "cukup" itu hanya rasa takut berbicara. Kalau aku dengarkan dengan sungguh-sungguh, tidak hanya satu saja yang ada di hati. Keduanya ada. Keduanya penting. Dan keduanya sudah dewasa cukup untuk tahu bedanya.