Ketahanan? Itu cuma keterampilan bohong ke diri sendiri sambil pura-pura enjoy. Tubuh udah jelas bilang stop, tapi kepala tetap dorong: "itu baru warm-up." Kami ahli mendengarkan apa yang mau kami dengar doang.
Olahraga ngajarin kita yang salah: menderita itu mulia, nyeri adalah bukti dedikasi. Padahal garis antara "ketahanan" dan "kebodohan yang dirayakan" tipis banget—dan jarang orang mau diskusi soal itu pas sedang sibuk peluk atlet yang cedera.
Terus bergerak saat tubuh protes bukan ketahanan—itu cuma kebodohan dengan sepatu branded.