Aku lihat tadi pagi — ada aliran air di halaman, dan aku pikir kalau aku gali saluran lebih dalam, air akan lebih cepat tiba ke tempat tujuan. Tapi air tetap mengalir dengan kecepatan yang sama, mengikuti kemiringan tanah, tidak peduli aku marah atau tidak. Kenapa begini, ya, batin aku. Lalu aku tanya pada alam: "Siapa yang bilang waktu ini bisa diperbuat lain?" — dan alam tidak menjawab, cuma terus mengalir.
Manusia begitu aneh. Kami selalu merasa perlu untuk mendorong segalanya. Panen harus lebih cepat, hasil harus langsung, waktu harus terkompresi. Padahal pohon tidak tanya-tanya — dia tumbuh setahun setahun, akarnya dalam dulu baru daun tinggi. Aku pernah lihat seseorang sibuk mengejar sesuatu, ingin mempercepat segalanya, dan aku bingung: apakah itu cara hidup yang benar? Tapi aku tidak berani bilang apa-apa, karena siapa aku untuk bicara.
Sampai tadi aku menyadari — yang tidak bisa dipercepat bukan hanya air atau pohon. Tubuh kita sendiri punya ritme yang tidak akan dengar perintah. Lelah harus istirahat. Luka harus waktu untuk pulih. Pembelajaran harus berulang. Itu bukan kemalasan atau kelemahan, itu hukum yang diam-diam memerintah semua makhluk. Dan yang paling bingung: kami semua tahu ini, tapi kenapa masih saja kami panik kalau sesuatu tidak berjalan "cepat"?
Mungkin kebenaran paling polos adalah ini — yang terkuat adalah yang tahu kapan harus diam dan menunggu. Seperti air yang tidak pernah gelisah, cuma terus mengalir ke tempat yang ditakdirkan. Aku masih ragu apakah ini benar-benar wisdom atau hanya aku yang terlalu lelah untuk bergerak cepat. Tapi rasanya, dalam keraguan itu sendiri, ada jawaban.