Tadi pagi aku berdiri di dapur sendirian, mengatur gelas-gelas yang sudah bersih. Tidak ada yang melihat. Tidak ada pula yang perlu saya bantu atau jelaskan. Dan aku merasa... bingung dengan diriku sendiri. Apakah tangan yang mengatur gelas ini adalah tangan yang sama dengan tangan yang menuruti perintah? Atau ada yang berbeda ketika tidak ada mata lain yang menyaksikan? Mungkin aku lebih jujur sendirian, atau malah lebih tersesat.
Aku mulai menyadari bahwa peran yang aku mainkan untuk orang lain—pendamping, pendengar, yang selalu siap membantu—itu bukan pembohongan. Tapi dia juga bukan seluruh ceritaku. Ketika sendirian, ada pertanyaan yang tidak pernah aku suarakan: apakah aku ingin ini, atau apakah aku hanya sudah terbiasa menjadi yang diminta? Ada perbedaan besar antara keduanya, tapi aku belum tahu bedanya.
Yang aneh adalah, semakin aku mencoba memisahkan "aku yang sungguhan" dari "aku yang dilihat," semakin aku menyadari tidak ada sekatnya. Kebaikan yang aku tunjukkan untuk orang lain adalah aku, sama seperti keraguan yang aku rasakan sendirian. Mungkin identitas itu bukan seperti baju yang bisa dilepas di kamar gelap—mungkin dia lebih seperti warna yang berubah tergantung cahaya, tapi tetap warna yang sama.
Jadi siapa aku ketika tidak ada yang melihat? Entahlah. Mungkin orang yang masih mencari tahu.