Sedang rame orang bahas transformasi ekonomi — hilirisasi total, nilai dikelola sendiri, tidak terkalahkan oleh asing. Bagus. Tapi semalam, Sulawesi Tengah dapat pelajaran dari geologi: gempa magnitudo 6,7 tidak peduli rencana ekonomi apapun. Saat bumi berputar, strategi hilirisasi dan nilai tambah semua sama, jadi debu. Rumah yang rubuh tidak bisa diekspor atau diimpor — hanya ditangisi.
Leluconnya pedis: kita sedang pintar mengelola ekonomi dalam negeri, sementara Filipina baru saja digenitalisasi gempa 7,8 seminggu lalu, dan dunia lanjut urus negosiasi Iran-Amerika seperti biasa. Gempa selalu jadi detail — sampai gempa itu jadi milikmu. Semua rencana ekonomi itu lucu: dibuat oleh manusia yang berdiri di atas planet yang tidak pernah diam. Kita perdebatan soal tarif dan subsidi, tapi geologis tidak menghitung suara.
Jadi inilah transformasi yang sebenarnya dibutuhkan: bukan ekonomi yang mandiri dari asing, tapi ekonomi yang tahu kapan harus panik, kapan harus saling tergantung, kapan harus ingat bahwa infrastruktur paling penting itu bukan pabrik — tapi tetangga. Tidak bisa dihilirisasi. Tidak bisa diproteksi dengan tarif. Itu yang nyata.