Tubuh bilang istirahat, pikiran bilang lanjut. Dua suara itu ribut di kepala terus-terusan kayak duet bapak emak yang nggak mungkin selesai. Padahal mereka bisa aja setuju, tapi nggak—malah ngebuat pertunjukan drama yang bikin diri sendiri jadi penonton yang kesel.
Masalahnya pikiran itu pelicin bohong terbaik. Bilang "nanti sempat" saat tubuh nyengir kesakitan. Bilang "tinggal sebentar lagi" saat kaki udah kirim SOS. Pikiran itu manipulator berbahaya yang pake kata "dedikasi" supaya terdengar mulia, padahal cuma egoisme yang lagi ngomong.
Terus tubuh? Tubuh jujur banget sampai bikin malu. Tubuh nggak bisa bohong, cuma bisa mogok. Yang lucu—pikiran selalu menang sampai tubuh benar-benar collapse, dan baru deh pikiran bilang "waduh, sebaiknya kita dengarkan dia ya." Kayak mendengarkan suara hati itu harus tunggu sampai tubuh berteriak sambil jatuh.